Search This Blog

Wednesday, June 19, 2013

HADITS PALSU DALAM KITAB FADHILAH AMAL Tduhan Mereka Jawapan kita.. Wahabi owh wahabi..



Mereka berkata : Kitab Fadhilah Amal adalah kumpulan hadits dhaif dan maudhu'
Masalah hadits dhaif pendapat yang umum dikalangan ulama boleh menggunakannya untuk Fadhilah Amal.

Masalah hadits maudhu' benarkah ada terdapat dalam Buku Fadhilah Amal karangan Maulana Zakariyya Al-Kandahlawi rah.a.

Jawabnya : “Ada”

Didalam Fadhilah Dzikir, Hadits-hadits Tentang Kalimat Thayyibah, Hadits ke 28
Maka Allah berfirman kepadanya: “Siapakah Muhammad (yang engkau maksud)?” Maka Adam menjawab: “Maha berkah nama-Mu ketika engkau menciptakan aku, akupun mengangkat kepalaku melihat Arsy-Mu, dan ternyata di situ tertulis: Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah. Maka akupun mengetahui bahwa tidak seorang pun yang lebih agung kedudukannya di sisi-Mu dari orang yang telah engkau jadikan namanya bersama dengan nama-Mu.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Wahai Adam, sesungguhnya dia adalah Nabi terakhir dari keturunanmu, kalaulah bukan karena dia, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu.” (Hr. Thabrani, Hakim, Abu Nu’aim, Baihaqi)

Dibawah hadits tersebut (keterangan hadits yang berbahasa Arab) dengan jelas Maulana Zakariyya menuliskan kedudukan hadits tersebut.
Apa keterangannya :

“Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, Al-Hakim, Abu Nu’aim, Al-Baihaqi yang keduanya dalam kitab Ad-Dala`il, Ibnu ‘Asakir dalam Ad-Durr, dan dalam Majma’ Az-Zawa`id (disebutkan): Diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Ash-Shaghir, dan dalam (sanad)-nya ada yang tidak aku kenal. Aku berkata: Dan dikuatkan yang lainnya berupa hadits yang masyhur: “Kalau bukan karena engkau, aku tidak menciptakan jagad raya ini”, Al-Qari berkata dalam Al-Maudhu’at: “Hadits ini palsu.”

Dalam menanggapi hadits ini :
Berkata Al-Imam Al-Hakim : “Shahih sanadnya”
Berkata Al-Imam Al- Baihaqi : “Dhaif”
Al-Qari berkata dalam Al-Maudhu’at: “Hadits ini palsu.”

Jadi ada perbedaan pendapat ulama tentang hadits diatas ada yang mengatakan : Shahih, dhaif dan palsu.

Pertanyaan
“Mengapa Maulana Zakariyya menuliskan hadits palsu dalam kitab Fadhilah amal”

Jawab :
Tidak ada masalah menuliskan hadits dhaif atau palsu dalam sebuah buku untuk kepentingan ilmu sepanjang menuliskan derajat haditsnya. Maulana Zakariyya dengan jelas menuliskan berbagai pendapat ulama dalam menanggapi hadits tersebut.

Pertanyaan
Kenapa penerjemah tidak menerjemahkan takhrij hadits tersebut kedalam bahasa Indonesia sebab mayoritas pembaca tidak memahami bahasa Arab.

Jawab :
Penerjemah mungkin punya alasan yang khusus dalam masalah ini. Setiap takhrij hadits dalam Fadhilah amal tidak pernah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia bisa saja karena akan menimbulkan tebalnya kitab tersebut dan biasanya hanya sebahagian kecil dari masyarakat Indonesia yang faham tentang ilmu hadits dengan baik.

Contohnya :
Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata, bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id Al Anshari berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahwa dia pernah mendengar Al Qamah bin Waqhas Al Laitsi berkata saya mendengar Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan balasan bagi tiap-tiap orang tergantung apa yang diniatkan. Barang siapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan” (HR. Bukhari)

Kalau kita melihat didalam buku hadits yang terjemahan atau salinan kedalam buku lain maka nama Perawi : Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair, Sufyan, Yahya bin Sa’id Al Anshari, Muhammad bin Ibrahim At Taimi, Al Qamah bin Waqhas Al Laitsi jarang sekali dituliskan padahal dalam tulisan bahasa arabnya ditulis lengkap dengan parawinya. Maka hadits diatas akan dipotong nama-nama perawinya dan hadits diatas akan dituliskan sebagai berikut :

Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan balasan bagi tiap-tiap orang tergantung apa yang diniatkan. Barang siapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan” (HR. Bukhari)

Jadi, alasan apa yang menyebabkan penerjemah tidak menyertakan nama-nama perawinya. Alasannya mungkin akan sama dengan keterkaitan masalah Fadhilah amal diatas. “Akan menimbulkan tebalnya kitab tersebut dan biasanya hanya sebahagian kecil dari masyarakat Indonesia yang faham tentang ilmu hadits dengan baik”.
Makanya menurut hemat penerjemah hal itu tidak dituliskan.

Mereka berkata : Kitab Fadhilah Amal tidak layak untuk dibaca karena akan menimbulkan kesesatan ditengah umat yang berisi kumpulan hadits dhaif dan maudhu'
Mari kita teliti dengan baik adakah didalam kitab para pencela itu hadits dhaif dan maudhu'

Hadits-Hadits dhaif yang Terdapat dalam Kitab At-Tauhid karya Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab

Bab 2 : Keistimewaan Tauhid Dan Dosa-Dosa Yang Diampuni Karenanya
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : “Musa berkata : “Ya Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu”. Allah berfirman : “Katakanlah wahai Musa : Laa ilaaha illallaah”. Musa berkata : Ya Tuhanku, semua hamba-Mu mengucapkan ini”. Allah pun berfirman : ”Hai Musa, seandainya ketujuh langit dan penghuninya, selain Aku, serta ketujuh bumi diletakkan pada salah satu daun timbangan, sedang ’Laa ilaaha illallaah’ diletakkan pada daun timbangan yang lain; maka ’Laa ilaaha illallaah’ niscaya lebih berat timbangannya”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Haakim, dan ia menshahihkannya.

Keterangan :
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 6218) dan Al-Mawaarid (no. 2324), serta Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (1/528). Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (8/327-328), An-Nasa’i dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 834, 1141), Al-Baihaqi dalam Al-Asmaa’ wash-Shifaat (102-103), dan yang lainnya.
Sanad hadits ini dla’if karena perawi yang bernama Darraaj bin Sam’aan. Al-Imam Ahmad berkata : “Hadits-hadits Darraj dari Abu Al-Haitsam, dari Abu Sa’id Al-Khudriy adalah lemah”.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam At-Ta’liqaatul-Hisaan (9/54-55 no. 6185), Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy dalam At-Tatabbu’ (1/718 no. 1988), dan Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Shahih Ibni Hibban (no. 6218).

Bab 7 : Termasuk Syirik; Memakai Gelang, Benang, Dan Sejenisnya Sebagai Pengusir Atau Penangkal Mara Bahaya

Hadits ‘Imraan bin Hushain radliyallaahu ‘anhu :

Dari ‘Imraan bin Hushain radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki terdapat di tangannya gelang kuningan. Maka beliau bertanya : “Apakah ini ?”. Orang itu menjawab : “Penangkal sakit”. Nabi pun bersabda : “Lepaskan itu, karena dia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu. Sebab jika kamu mati sedangkan gelang itu masih ada di tubuhmu, kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”.

Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad laa ba’sa bih (tidak mengapa/bisa diterima).
Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ahmad (4/445), Ibnu Majah (no. 3531), Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir (18/172 no. 391), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 6085) dan Al-Mawaarid (no. 1410-1411), serta Al-Haakim (4/216).

Sanad hadits ini dla’if karena :
a) Adanya inqitha’ (keterputusan), karena Al-Hasan (Al-Bashriy) tidak mendengar hadits dari ‘Imran bin Hushain. Tashriih Al-Hasan dalam hadits di atas adalah tidak benar menurut Ibnul-Madini, Abu Hatim, dan Ibnu Ma’in.
b) Adanya ’an’anah dari Al-Mubaarak bin Fudlaalah, sedangkan ia adalah seorang mudallis.

Hadits ini dilemahkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam At-Ta’liqaatul-Hisaan (8/448 no. 6053) dan Adl-Dla’ifah (3/101-104), Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy dalam At-Tatabbu’ (4/341 no. 7582 – beliau menegaskan adanya inqitha’ dalam sanadnya), serta Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij wa Ta’liq Musnad Al-Imam Ahmad (33/2-4-205).

Hadits maudhu' (palsu) dalam kitab Fathul Majid Syaikh Abdurrahman hasan Alu Syaikh

Bab : Mamberi Nama Anak Yang Bernuansa Syirik Kepada Allah, Hal. 882. 1994 M, Penta’liq : Abdullah bin Baaz.

Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Al A'raaf 190)

Imam Ahmah rah.a dalam menafsirkan ayat ini berkata, “Bercerita kepada kami Abdush-Shamad, bercerita kepada kami Umar bin Ibrahim, bercerita kepada kami Qatadah dari Al Hasan dari Samurah dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Ketika hawa melahirkan, iblis mengitarinya dan anaknya tidak pernah hidup. Lalu iblis berkata kepadanya : Namailah anakmu dengan Abdul Harits dan anak itu hidup. Itu adalah wahyu dari syetan dan perintahnya.

Ibnu Katsir mengatakan cacat dari 3 segi dan hadits ini nampaknya dari ahli kitab
Imam Abu Muhammad bin Hazm berkata palsu dan bohong dari kalangan orang yang tidak punya agama.

Mereka berkata : Kitab Fadhilah Amal tidak layak untuk dibaca karena akan menimbulkan kesesatan ditengah umat yang berisi kumpulan hadits dhaif dan maudhu'. Sebenarnya mereka sendiri sudah menghukumi dirinya sendiri.
Untuk apa baca kitab Fathul Majid yang berisi kumpulan hadits dhaif dan maudhu'.
Cobalah sedikit untuk berpikir.

Wallahu a’lam

oleh Ust Mahodum Hasibuan

27 comments:

  1. Mengajarkan kebaikan dengan sesuatu yang lemah juga lebih baik daripada tidak melakukan sesuatu.

    tulisan ini bagus, sudah sedikit mencerahkan saya yang awam mengenai hadits. Saya maju terus dah utk baca Fadhilah Amal

    ReplyDelete
  2. jaman sekarang umat sedang hancur-ancuran sebaiknya jgn kita saling melemahkan
    sekarang bagai mana caranya kita berfikir agar semua umat taat pd ALLAH,swt

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. bagi saya tiada masalah tentang hadist lemah atau palsu.. dan komen bapak harianto pun bagus.. mngajar kebaikan dgn sesuatu yg lemah.. cuma didalam banyak hadist palsu itu.. klu boleh yg melibatkan sejarah dan fakta itu patut dihindar sama skali, sbb iya klu sesama muslim okay.. tapi ada banyak org diluar sana sedang mencari kebenaran.. jadi jika dihidangkan dengan hadist daif bisa pusing dia nanti. saya dibesarkan daripada keluarga tabligh.. saya percaya kebenaran perjuangan dn keberkatan dakwah.. CUMA.. sedikit pandangan dari sya utk jemaah seluruh dunia.. klu bisa alquran jgk harus tidak kurang dibaca dan difahami maknanya dan diulang2 baca seperti ta'lim.. apa yg berlaku dlm keluarga saya.. ta'lim kok ditanya klu udah dibaca atau blum, tiada siapa yg akan tanya alquran sdh dibaca atau blum.. sedangkn ada banyak berita gembira yg allah sampaikan pada kita yg belum pernah kita baca... cuba la buka alquran online anda akan dapati banyak panggilan allah pada kita.. nasihat2 allah dan ganjaran pada yg tekun buat kebaikan.. subhannallah.. menitis airmata bila pertama kali terbaca makna ayat2 yg kita baca setiap hari dan tidak tau maknanya... mmg baik hadist2 lemah trsbut.. tapi apa maknanya masa yg kita ada klu hanya meluangkn masa utk beri tumpuan pada hadist2 yg doif atau palsu..

    ke 2. sewaktu didalam pengaruh tabligh 100% saya beranggapan semua org yg tidak sama2 buat usaha tabligh semua tidak dapat hidayah... kdang2 kwn kata tidak mengapa nanti mlm tahajud kita doakan mereka.. subhanallah.. masalah ni x tau mau salahkan siapa...

    ke 3 harap makluk, bagi saya mengharap memang dan meminta selain dari allah mmg la haram... tapi menerima dan memberi bantuan sesama islam itu bagus jgk.. bahkan bukan islam.. mengerat kan silaturahim.. dan saudara manusia anak adam.. apa yg sya lalui sikit2 mau bilang jgn harap makhluk.. klu tidak mau harap makhluk kluar dari bumi allah .. sbb selain allah semuanya makhluk.

    ada banyak lagi sebenarnya yg terbuku dihati ini tapi tidak manis jika dipandang org bukan islam.. bisa salah faham dn tambah lebih jauh mereka.. cuma apa yg penting disini jgn pandang rendah pada mana2 kumpulan yg mengajar yg menasihat yg mengajak manusia pada allah kita sokong seja.. contohnya ulamak2 dan usstaz yg berada disekolah ada yg dalam radio & tv.. itu bahagian mereka.. kita x mungkin bisa sampaikan dakwah mcm mereka.. dan mereka jgk tidak mungkin mampu pergi ke jambtan2 yg usang ditepi laut rumah kerumah buat gash.. panggil anak2 muda yg buang masa tiada hasil pergi ke masjid.. bgitu jgk yg lain.. kita semuakan ibarat bermain dalam satu pasukan bola masing2 ada peranan dan kepentingan.. sekiranya ada yang tidak betul kita boleh berbincang ditempat tertutup dan beri pandangan.. bukan mengaibkan atau menjatuhkan mna2 pihak dan akhirnya musuh berhasil mendapat GOL!!! sekian .. hamba allah dari sabah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Na'am untuk pendapat sdr Anonymous.... Umat ini menjadi tanggung jawab muslim / muslimah semua, berperan dlm peranannya...

      Delete
  5. Saya yang salah belum lagi baca alquran, padahal sudah baca fadhilah alquran dan anjuran membaca alquran minimal satu juz setiap hari.
    Saya yg salah belum lagi paham bahwa usaha rasulullah salla'llahu'alaihiwasallam bukan hanya mengusahakan hidayah utk ibadah tapi juga hidayah utk menuntut ilmu dan lain2. Khususnya hidayah utk mengambil kewajiban dakwah.
    Bukan hanya satu hidayah tapi berjuta2 hidayah utk mengamalkan agama sesuai sunnah rasulullah salla'llahu'alaihiwasallam. Padahal ini sudah dituliskan dengan rinci di bab tabligh dan cabang2 agama.
    saya yg salah belum khidmat yg sempurna pada ulama padahal sudah dianjurkan utk melakukannya dalam bab memuliakan ulama.
    saya yg belum ikram sempurna kepada saudara muslim padahal sudah dianjurkan dalam bab memuliakan sesama muslim.
    saya yg salah masih mencari2, melihat2, mendengar2, memikirkan2, dan membicarakan2 kelemahan serta kekurangan sesama muslim dan belum mengamalkan ilmu yang dipelajari.
    saya yg salah belum sungguh2, masih santai2 dan belum istiqomah khuruj fisabililah setidaknya 4 bulan tiap tahun.
    Orang yang selalu melihat kesalahan dirinya sendiri akan berusaha utk terus memperbaiki diri agar dapat pula mengikuti umat yg terbaik...

    ReplyDelete
  6. mengapa di dalam kitab fadhail amal terjemahan tidak disebutkan derajat haditsnya? jadi kami orang awam tidak mengetahui hal itu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Langsung ke Markaz jakarta atau Markaz kerung2 makassar

      Delete
  7. ""Barang siapa yg maksud hidupnya untuk akhirat maka ada bagianya di akhirat, dan barang siapa yg maksud hidupnya untuk dunia tiada bagianya diakhirat,. jadikan dakwah maksud Hidup,.insyaAllah.

    ReplyDelete
  8. Allah kuasa mahluk tidak kuasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dunia sementara saja, paling - paling 60 - 70 tahun... Tapi Akhirat selama lamanya

      Delete
    2. Anonymous,,,!
      Allah maha kuasa : AL MUQTADIR
      kalau penulisan nya Allah kuasa saja maka belum memenuhi nama dan sifat Allah. yang seharusnya kata maha tidak dihilangkan. Allah maha kuasa : AL MUQTADIR

      Delete
  9. Syaitan lebih benci kepada ahli maksiat ketimbang ahli bida'ah kerna ahli maksiat tau yang dilakukan itu salah dan mudah bertaubat sedangkan ahli bida'ah tetap merasa yang dia lakukan itu adalah benar

    ReplyDelete
  10. assalamu alaikum, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT, klw ada yg pasti mengapa kita memilih yang belum pasti, yg pasti aja belum selai kita amalkan, masih banyak yg pasti2 yg masih harus kita pelajari buat apa kita hanyut dan berlarut2 dalam ketidak pastian, hanya saling bantah, menjatuhkan, menghujat, klw kita berfikiran lurus dan tidak mau ambil resiko alias buang waktu, lebih bai

    ReplyDelete
  11. laanjutan komen d atas terputus masalah jaringan, lebih baik kita mengamalkan sesuatu or bersandar pada hadits2 yg sudah nyata2 sahih, mutawattir dari pada kita larut dalam bantahan mengutkan yang lemah membolehkan yang doif, yg sesunggunya itu tugasnya para ulama or perwi hadits, disini kita semua hanyalah orang baru yg belajar ilmu agama alangkah baiknya kita memilih jalan yg tidak beresiko, kan masih banyak hadits2 atau amalan2 yg suda nyata2 sahih kenapa hati kita berat untuk melakukannya sedang hadits or amalan2 yg masih lemah yg kita iklas melakukannya, tegakah anda menghabiskan umur anda larut dalam pengamalan amal2 yg hati anda sendiri meragukan dalilnya? kebenaran hanya milik Allah, wassalam

    ReplyDelete
  12. Fadilah amal diulang2 biar terkesan lg dalam hati, biar yg tdk tahu jd tahu, sdh tahu tp blum amal jd bramal, yg lupa ingat lg dan amal lagi, yg sdh amal jd smngat mnularkan amal dgn mngajak org lain untuk amal.

    ReplyDelete
  13. saya prnh dudok dlm satu majlis fikir atas iman dan amal, satu org yg tgh buat bayan dia marah² bila ada yg kata dlm kitab fadhail amal ada hadis² daif.
    klw bagi saya hnya berlapang dada mengenai perkara ini,sebuah kitab karangan manusia mmg tidak akan sempurna krn hanya Al Quran yg benar² sempurna.
    Apa yg penting kita selidiki dulu apa yg dikatakan org dan cari perbandingan yg lain, ulama tu kan ramai, jdi jgn bersikap taksub melulu..
    kita ingin membela islam dan tujuan kita sama utk agama Allah, jdi siapa pun kita jgn bersikap asobiyyah..

    ReplyDelete
  14. habis baca sebaiknya tanya ustad yang lebih paham apa boleh di amalin atau tidak

    ReplyDelete
  15. Khidmat dan ikrom sebaik baik perbuatan untuk melembutkan hati.... Kunci utamanya ini....

    ReplyDelete
  16. Subhanallah, kawan, semua kawan, saudaraku, kita semua saudara, sebaiknya kita jalankan saja perintah Allah. Solat pada waktunya, perbanyak amal soleh, mengaji, nanya ke ulama, dan hasilnya amalkan.


    jangan lupa, tetap berbuat baik kepada sesama, taati orangtua, sayangi istri dan anak, serta tetap istiqomah di Jalan Allah.

    ReplyDelete
  17. Ingat jangan sampai kita di benturkan satu sama lain pada hal kita satu syahadat LAILAHAILLALLAH MUHAMMAD RASULULLAH.yahudi nasrani gembira melihat pertikaian sesama muslim, kaum Syiah bertepuk tangan propaganda mereka berhasil memecah ahlusunnah walajamaah (sunni)

    ReplyDelete
  18. Kedua-dua kitab ini, baik Fadhilah Amal maupun kitab Tauhid merupakan kitab-kitab yang berisikan ilmu yang patut untuk dipelajari sebagai salah satu jalan mempelajari luasnya Ilmu Agama...
    Kalaupun ada sedikit isinya yang mungkin haditsnya maudhu/palsu, maka kita cari yang benarnya dan tinggalkan yang palsunya, tetapi bukan berarti kitab ini tidak baik. Justru kedua kitab ini saling menguatkan dan melengkapi, tidak selayaknya ummat penerus saling cela, padahal ulama pendahulu kita tidak saling cela.

    Wallahu 'alam...

    ReplyDelete
  19. Dakwah mulai dari lingkungan terdekat : kluarga, tetanggga,rt,rw ,kelurahan ,kecamatan,dan setrusnya dengan logika berpikir dan perasaan sesama makhluk 4JJl seta tidak menyinggung perasaan sesama manusia sebagai sesama makhluak ciptaan 4JJI dengan pedoman alqur an dan hadist yang shohih

    ReplyDelete